The Beginning (Perjuangan melawan kanker)

        Tahun 2016 merupakan tahun terkelam dalam hidup saya. Masalah keluarga yang menyita pikiran, masalah finansial yang butuh segera diselesaikan, dan yang paling menakutkan adalah diagnosis kanker payudara yang diberikan oleh dokter kepada ibu saya. Pada saat itu saya masih menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas di kota saya. Bisa dikatakan saya adalah anak SMA tidak berpengalaman, melihat karakter saya yang sangat manja.
        Dalam kondisi yang sangat sulit, tiba-tiba Ibu saya memberitahukan bahwa terdapat benjolan di payudaranya yang baru muncul bulan ini. Saya memeriksa keberadaan benjolan itu, begitu saya sentuh rasanya dunia saya runtuh dan rasa frustasi yang selama ini dipendam mendadak mencul dipermukaan. Tetapi saya menahan perasaan tersebut dan memaksakan untuk tetap tenang agar ibu saya tidak menjadi lebih khawatir. Saya hanya berkata "ibu mau bagaimana?", dengan kebingungan dan harapan ibu mau menempuh jalur medis agar cepat ditangani mengingat kanker merupakan penyakit yang sudah ada secara turun temurun di keluarga. Syukurlah pada saat itu ibu langsung memutuskan untuk menempuh jalur medir.
    Serangkaian pemeriksaan dilakukan untuk menentukan rangkaian pengobatan medis yang harus dijalankan ibu. Pembedahan, kemoterapi, radiasi, dan obat merupakan rencana awal yang dirancang oleh dokter kami. Kami mendiskusikan bahwa apapun yang terjadi kami akan tetap berjuang untuk melalui serangkaian pengobatan tersebut demi kesembuhan. Pada saat itu hanya ada kami berdua, tidak ada oranglain yang membantu terutama bantuan secara psikologis. Kami benar-benar bersandar satu sama lain.
        Ujian pertama bagi saya pribadi yaitu pada saat pembedahan ibu harus dilakukan. Saya yang masih sangat awam mengenai rangkaian pengobatan ini menjadi sangat khawatir ketika ibu saya belum keluar dari ruang operasi dalam jangka waktu yang cukup lama bagi saya. Pada saat itu saya benar-benar sudah putus asa. saya sudah sampai pada titik mengikhlaskan kepergian ibu apabila terjadi kegagalan pada saat proses pembedahan. Ketakutan yang saya rasakan tidak terjadi karena ibu saya keluar dari ruang operasi setelah 6 jam berada didalamnya. 
        Satu minggu ibu harus menginap di Rumah Sakit untuk dimonitor perkembangannya. Selama itu saya berusaha untuk tetap berada disamping beliau. Membolos kuliah dan hanya masuk ketika harus hadir dalam praktikum telah menjadi kebiasaan saya saat itu. Rasa takut dan khawatir tetap menghantui walaupun dokter dan perawat mengatakan bahwa ibu saya menunjukkan hasil yang signifikan karena penyakit yang diderita lekas ditemukan sehingga penanganan diberikan dengan segera. 
    

Komentar

Postingan Populer