Big Step
Perjuangan terberat yang harus saya dan ibu lalui setelah serangkaian proses pembedahan dan perawatan luka pasca operasi yaitu kemoterapi. Kami dihantui oleh ketakutan akan efek dari kemoterapi yang dilakukan. Itu semua diakibatkan oleh memori yang kami miliki pada saat merawat anggota keluarga yang menjalani kemoterapi. Bayangan kesakitan dan tersiksanya keluarga kami pada saat itu tidak muda untuk dienyahkan begitu saja. Namun, dokter benar-benar mendampingi dan memberikan penjelaskan mendetail kepada kami bahwa efek kemoterapi tidak akan seburuk itu selama pasien dapat menjaga kondisinya, tidak terlambat ditangani, dan memiliki semangat tinggi untuk berjuang sembuh dari kanker.
Penjelasan dan kalimat yang diberikan dokter pada saat itulah yang menjadi penyemangat bagi saya dan ibu. Ibu saya menjalani kemoterapi di Rumah Sakit provinsi rujukan yang telah ditentukan. Kami benar-benar tidak memiliki bayangan bagaimana proses kemoterapi akan berlangsung. Kami nekat saja pergi ke RS rujukan dengan membawa segala berkas pemeriksaan dari RS sebelumnya. Awalnya kami kira begitu kami ke RS rujukan, Ibu akan langsung mendapatkan jadwal kemoterapi. Namun, Ibu saya harus menjalani serangkaian pemeriksaa lagi sebagai penunjang data pasien.
Setelah serangkaian pemeriksaan yang memakan waktu cukup panjang, akhirnya jadwal kemoterapi untuk ibu saya keluar. Ibu saya harus melalui satu paket kemoterapi (sebanyak 6 kali tindakan) dengan rentang waktu tiga minggu sekali. Selama itu dokter menasehati kami untuk selalu menjaga kondisi ibu untuk stabil agar efek kemoterapi yang diberikan dapat dihadapi dengan baik.
Semenjak ibu didiagnosa terkena kanker payudara, saya yang terbilang cukup muda pada saat itu telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak mendengarkan omongan menakutkan dari orang-orang mengenai efek kemoterapi. Saya berjanji untuk hanya mempercayai apa yang dikatakan oleh dokter, perawat ataupun artikel-artikel ilmiah yang telah terbukti berdasarkan hasil penelitian. Namun, meskipun mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi, perjuangan melawan kanker tetap terasa berat bagi saya. Hal paling menyakiti hati saya adalah pada saat menyaksikan rambut ibu saya rontok seluruhnya dan tetap harus menyaksikan ibu bekerja dengan menahan semua efek kemoterapi. Saya ingin menangis, sangat ingin menangis pada saat itu. Namun, tidak ada air mata yang keluar dan saya telah berjanji pada diri sendiri untuk tetap tegar seperti ibu dalam perjuangan ini.
Satu paket kemoterapi berhasil ibu saya lalui dengan baik tanpa ada efek efek menakutkan yang sering dibicarakan orang diluar sana. Ini karena ibu saya selalu mematuhi saran dokter terutama masalah pantangan makan. Disamping itu saya dan ibu selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizi (tetap memaksa untuk makan walaupun perut mual dan nafsu makan menurun drastis), tetap berolahraga, dan beristirahat cukup. Bahkan sebagian besar orang tidak akan menyangka ibu saya merupakan penderita kanker, karena selama pengobatan ibu saya tidak mengalami penurunan berat badan dan masih bugar.
Komentar
Posting Komentar